Esensi dari sebuah kenyataan akan menghadirkan beberapa pertanyaan seputarnya, dikala akal tak lagi memenuhi syarat untuk menyatakan kebenaran, hati mulai bergerak menyatakan kenyataan dan kebenaran, tempat yang belum pasti diketahui banyak hal dalam kenyataan hidup, keterpesaingan antara hati dan akal ditentukan sebuah pronologi ketidakpuasan yang menghasilkan tangki-tangki semu dari kebenaran akannya.
Kebutaanpun menampakan sesutu yang dianggap jelas nampak oleh mata fisik, tak urung dari kesemuanya hati sangat berperan penting dalam menentukan akal harus bertindak, aturan bukanlah suatu hal yang bisa menghentikan kerja antara akal dengan perasaan banyak kenyataan yang menipu setiap tindakan yang terpikirkan oleh akal ketika semua tidaklagi berapologi pada sutu keinginan hati berkata yang jauh lebih tidak dimengerti oleh akal dan pikiran,
Waktu lebih tau apa yang dia inginkan daripada hal yang telah kita susun berdasarkan akal yang sehat,
Ketika kebutaan hati telah menandakan sebuah keinginan, akal tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, mulutpun mengeluarkan seruan yang benar dan gerakan tubuh melakukan sesutu diluar akal dan pikiran, fanatismeu mewujudkan antara mimpi dengan teori akal sehingga terbentuk sebuah keinginan yang memaksa akal harus mengikuti apa kata hati.
Jumat, 31 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar